Beranda ADVERTORIAL Kenali Keterlambatan Perkembangan si Kecil, Sebelum Terlambat!

    Kenali Keterlambatan Perkembangan si Kecil, Sebelum Terlambat!

    0

    Katanews.id – KOTA TANGERANG – Perkembangan fisik bayi memang berbeda satu sama lain di masing-masing tingkatan usia, kendati pada sebagian besar bayi perkembangannya mengikuti waktu secara umum, namun di sisi lain ada yang agak mengalami terlambat. Meski berbeda-beda, orangtua tetap harus waspada terhadap tanda bayi terlambat berkembang.

    Kepada Katanews.id, dr. Dhani Sartika Gunaleila, SpKFR seorang dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi anak di RSUD Kota Tangerang, menjelaskan perkembangan setiap anak memiliki keunikan tersendiri dan kecepatan pencapaian perkembangan tiap anak berbeda. Perkembangan itu sendiri terbagi menjadi 4 (empat) ranah yakni monorik kasar, motorik halus, bicara bahasa, dan kemandirian anak.

    “Seorang anak dapat mengalami keterlambatan perkembangan hanya di satu ranah perkembangan saja, atau ada pula lebih dari satu ranah perkembangan. Tapi yang sering kita lihat dan mudah dikenali itu yakni motorik kasar dan bicara bahasa,” ujar dr. Dhani.

    Tanda anak mengalami keterlambatan perkembangan dari ranah motorik halus, lanjut dr. Dhani, anak belum bisa melakukan gerakan kecil, seperti memegang mainan atau benda disekitarnya pada usia 3 bulan. Sedangkan motorik kasar, bisa dikenali saat anak usia 4 sampai 6 bulan tapi belum bisa membolak-balikan badan, belum bisa mengangkat kepala cukup tinggi, dan kurang berkerak secara aktif.

    “Contoh lainnya bisa kita lihat jika anak terlihat lemah, lengan dan kakinya kaku, atau belum bisa bisa duduk tanpa bantuan ketika usianya 9 bulan. Jika hingga usia anak 12 bulan belum bisa duduk juga, maka itu sudah termasuk tanda bahaya (red flag) pada perkembangan anak. Karena itu lah, Ayah dan ibu memang seharusnya membaca tahapan perkembangan anak,” jelasnya.

    Kemudian tanda selanjutnya, ucap dr. Dhani, yakni ranah bicara bahasa. Pada ranah ini seharusnya anak sudah bisa senyum sosial, artinya anak bisa membalas tertawa atau tersenyum saat diajak bercanda dengan keluarga.

    “Jika saat baru lahir anak suka tersenyum sendiri, di usia 4 bulan anak sudah bisa merespon dengan senyuman lawan bicaranya atau keluarganya. Dan pada usia 9 bulan anak diharapkan bisa mengoceh kata-kata yang belum berarti seperti, mamamama, papapapa,” jelasnya.

    Lalu menjelang setahun, tambah dr. Dhani, seharusnya anak dapat menyebut kata dengan spesifik. Artinya sang anak akan menyebut ‘mama’ saat melihat Ibunya, dan menyebut ‘papa’ saat melihat ayahnya.

    “Di usia 12 hingga 15 bulan, anak sudah harus bisa mengatakan beberapa kata sederhana, bahkan jika pelafalannya masih tidak jelas. Kemudian, kebanyakan balita bisa mengerti beberapa kata pada saat usianya 18 bulan. Lalu ketika mencapai 3 tahun, kebanyakan anak-anak dapat berbicara dengan kalimat-kalimat singkat,” tukasnya.

    Dr. Dhani juga menjelaskan, bahwa gangguan bahasa terjadi ketika anak mengalami kesulitan memahami apa yang orang lain katakan, dan tidak bisa mengungkapkan isi pikiran mereka. Bahasa meliputi kemampuan berkomunikasi atau berbicara, kemudian gerakan berupa isyarat serta menulis.

    Selain itu, gangguan pendengaran juga dapat menyebabkan keterlambatan bicara bahasa, sehingga orang tua diharapkan segera melakukan tes yang secara spesifik menganalisa indera pendengarannya kepada dokter.

    Terapi Anak di RSUD Kota Tangerang

    Adapun keterlambatan perkembangan anak pada ranah kemandirian anak, dr. Dhani memaparkan, masa kritis bagi perkembangan kemandirian berlangsung pada usia dua sampai tiga tahun. Pada usia ini tugas utama perkembangan anak adalah untuk mengembangkan kemandiriannya.

    “Pada ranah ini, diharapkan anak sudah mampu untuk melakukan aktivitas sederhana sehari-hari, seperti makan tanpa disuapi, menggunakan pakaian sendiri, mampu memakai kaos kaki dan sepatunya sendiri,” ucap dr. Dhani.

    Pada saat usia 3 tahun, anak mulai dapat pergi sendiri dan mengurus keperluan toiletnya. Anak umur 4-5 tahun dapat berpakaian dan melepas pakaiannya tanpa harus diawasi. Pada waktu makan, anak-anak usia prasekolah sudah dapat menggunakan sendok dengan benar dan makan sendiri.

    “Peran serta dari berbagai pihak juga dibutuhkan pada ranah ini. Karena dalam mengembangkan kemandirian anak, diperlukan keterlibatan orang tua, guru, dan anaknya sendiri,” imbuh dr. Dhani.

    Jika memasuki usia 3 tahun anak belum menunjukan hal tersebut, tambah dr. Dhani, bisa dikatakan anak mengalami keterlambatan perkembangan pada ranah kemandirian anak. Diharapakan orang tua segera membawa anak ke dokter untuk dilakukan detekai dini.

    “Pengobatan untuk keterlambatan perkembangan seorang anak bervariasi dan disesuaikan dengan tipe atau jenis keterlambatan perkembangannya. Contohnya, terapi fisik disarankan untuk anak penderita keterlambatan perkembangan motorik, kemudian terapi perilaku dan pendidikan untuk membantu anak penderita autisme dan masih banyak lagi,” pungkasnya.

    Di RSUD Kota Tangerang sendiri, tersedia terapi untuk anak-anak dengan kesulitan belajar dan masalah perkembangan lainnya. Dr. Dhani menyampaikan, setelah anak dilakukan deteksi dini oleh dokter anak, nanti anak akan diarahkan untuk menemui dokter spesialis terapi yang disesuaikan dengan ranah keterlambatan perkembangan anak itu sendiri.

    “Untuk jadwal konsultasi kami buka setiap hari. Dan untuk terapi anak dilakukan seminggu sekali, di tiap bulannya juga tetap dilakukan kontrol oleh dokter,” pungkasnya. /Adv

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here