Beranda ADVERTORIAL DLH Tangsel, Dari Sampah Jadi Berkah

    DLH Tangsel, Dari Sampah Jadi Berkah

    0

    Katanews.id – KOTA TANGERANG SELATAN – Pengelolaan sampah memang menjadi PR (Pekerjaan Rumah) di setiap Pemerintah Daerah. Sampah yang kian bertambah dengan penampungan sampah yang semakin menggunung menjadi tantangan Pemerintah Daerah dalam mengatasinya.

    Melalui Dinas Lingkungan Hidup, Pemerintah Kota Tangerang Selatan mencoba berbagai cara demi mengurangi penumpukan sampah yang berlimpah.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangsel, Toto Sudarto mengatakan pihaknya terus berupaya mengurangi penumpukan sampah dengan berbagai macam pengelolaan. Yakni dengan melakukan pengelolaan sampah berbasis masyarakat dan penangan serta pengawasan sampah.

    “Kami mencoba menjadikan sampah dapat bermanfaat bagi masyarakat Kota Tangsel. Dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat ini kami kami telah menerapkan kegiatan berupa pengembangan bank sampah, pelatihan urban farming dari hasil kompos, pelatihan daur ulang sampah dan peningkatan kinerja TPS (Tempat Pembuangan Sampah -red) 3R,” papar Toto.

    Toto menjelaskan, pengembangan Bank Sampah ini merupakan tempat pemilahan dan pengumpulan sampah yang dapat di daur ulang dan/atau diguna ulang yang memiliki nilai ekonomi dan membangun Social Engeenering untuk memilah sampah di rumah.

    “Selain memiliki nilai ekonomi, Bank Sampah juga memiliki peran untuk mereduksi (mengurangi) sampah dari sumbernya yaitu sampah rumah tangga, yang dapat mengurangi timbulan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPA),” katanya.

    Dalam pengembangan Bank Sampah di Kota Tangerang Selatan, Toto mengatakan, pihaknya melaksanakan kegiatan edukasi, pelatihan dan fasilitasi kebutuhan operasional penunjang pembentukan Bank Sampah.

    Dan dalam memfasilitasi kegiatan pembentukan Bank Sampah, DLH Tangsel juga memberikan buku tabungan nasabah, spanduk sebagai identitas Bank Sampah, timbangan gantung digital serta gawang sebagai alat untuk menggantung sampah pada saat proses penimbangan.

    “Kegiatan edukasi dan pelatihan pembentukan Bank Sampah ini tidak hanya dilaksanakan pada hari dan jam kerja saja, tapi dilaksanakan juga di luar hari dan jam kerja, yaitu di hari Sabtu dan Minggu serta pada saat Car Free Day,” ujarnya.

    Toto juga menyampaikan, saat ini pada bulan Mei tahun 2018 jumlah Bank Sampah di Kota Tangerang Selatan sudah berjumlah 163 Bank Sampah dengan total jumlah nasabah Bank Sampah 6.484 orang yang tersebar di 7 Kecamatan atau 54 Kelurahan, dengan rincian sebagai berikut;

    1. Kecamatan Pamulang
    Jumlah Bank Sampah: 65
    Jumlah Nasabah: 2.497

    2. Kecamatan Setu
    Jumlah Bank Sampah: 19
    Jumlah Nasabah: 1.106

    3. Kecamatan Ciputat
    Jumlah Bank Sampah: 18
    Jumlah Nasabah: 646

    4. Kecamatan Ciputat Timur
    Jumlah Bank Sampah:28
    Jumlah Nasabah: 1.342

    5. Kecamatan Serpong
    Jumlah Bank Sampah: 7
    Jumlah Nasabah: 194

    6. Kecamatan Serpong Utara
    Jumlah Bank Sampah: 4
    Jumlah Nasabah: 129

    7. Kecamatan Pondok Aren
    Jumlah Bank Sampah: 22
    Jumlah Nasabah: 570

    Total Bank Sampah: 163
    Total Nasabab: 6.484

     

    Selanjutnya, ucap Toto, Kegiatan pelatihan Urban Farming dari hasil kompos juga dipilih pihaknya untuk meminimalisir penumpukan sampah. Urban Farming dari hasil kompos ini merupakan kegiatan pelatihan pemanfaatan kompos hasil pengolahan sampah organik ini untuk mengajak masyarakat Tangsel bercocok tanam di lingkungan tempat tinggalnya.

    “Setelah masyarakat mendapatkan pelatihan pengolahan sampah organik dengan tong komposter, masyarakat mendapatkan pelatihan urban farming berupa cara menanam tanaman dimulai dari penyemaian benih tanaman, merawat tanaman hingga panen,” tukasnya.

    DLH Tangsel juga mengadakan kegiatan berupa pelatihan daur ulang sampah. DLH Tangsel mencoba memberikan pelatihan dengan konsep 3R (Reduce, Reuse dan Recycle) kepada masyarakat luas.

    “Pelatihan daur ulang sampah yang diberikan merupakan proses memanfaatkan bahan bekas atau sampah untuk menghasilkan produk kerajinan yang dapat digunakan kembali. Kami bersama dengan Komunitas SIBAS (Silaturahmi Bank Sampah Kota Tangerang Selatan) memberikan pelatihan daur ulang sampah berupa produk kerajinan seperti kaligrafi, tas, dompet, taplak, tempat tisu, ecobrick dan lain sebagainya,” pungkasnya.

    Kemudian, lanjut Toto, pihaknya juga mengadakan penibgkatan kinerja TPS 3R. Toto menuturkan, TPS 3R adalah Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse dan Recycle (mengurangi – menggunakan kembali – daur ulang). Pendekatan pengelolaan 3R mulai dari menjemput sampah dari tiap rumah, pemilahan sampah, pengelolaan sampah organik akan dijadikan kompos.

    “Dalam meningkatkan kinerja TPS 3R, kami mengadakan rapat koordinasi secara berkala kepada pengurus TPS Se-Kota Tangerang Selatan dan memberikan bimbingan teknis, pembinaan, pengawasan, evaluasi dan fasilitasi sarana prasarana serta tenaga ahli pendamping kepada petugas TPS 3R,” tuturnya.

    Toto menyampaikan jumlah TPS 3R di Kota Tangerang Selatan ada 49 TPS 3R dengan jumlah layanan 23.542 Kepala Keluarga (KK), dan setiap TPS 3R mengolah sampah 2.5 m3 sampai 4 m3 perhari.

    Selain pengelolaan sampah berbasis masyarakat, DLH Tangsel juga mengadakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan penanganan dan pengawasan sampah. Di antaranya kegiatan ruitn harian operasi bersih sampah, operasi bersih titik sampah liar, dan piket pengawasan titik sampah liar.

    “Selain untuk meminimalisir timbunan sampah di Kota Tangerang Selatan, kami berharap kegiatan-kegiatan ini dapat dirasakan juga manfaat dan keberkahannya oleh masyarakat Tangerang Selatan,” tutupnya. /Adv

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here