Terapkan Adopsi Pola Jarak Tanam Ganda, Agus: Ini untuk Peremajaan Karet Tua

Sumsel48 Dilihat

Palembang – Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sumsel Ir. Agus Darwa., M. Si melakukan terobasan strategis terkait komunitas karet dengan menerapkan adopsi inovasi pola jarak tanam ganda karet yang di buat dengan jarak tanah Lebar 18 Meter 2×2,5 meter saat diwawancarai di ruang kerjanya, Rabu (24/5/2023).

Hal ini dilakukan, karena sekarang ini, disamping harga yang tidak kunjung membaik kemudian produksi yang rendah, serangan hama penyakit yang tidak kunjung sembuh sehingga pendapatan petani itu berkurang.

Kadisbun Provinsi Sumatera Selatan Ir. Agus Darwa., M. Si didampingi Kabid Produksi Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, Havizman., Sp., M. Si mencoba mengagaskan kedepan tentang bagaimana pola kita meremajakan karet tua, yang ada tingkat petani dalam rangka meningkatkan produktifitas. Salah satu pola yang gagas adalah pola jarak tanam ganda, karet yang di buat dengan jarak tanah Lebar 18 Meter 2×2,5 meter.

Agus menjelaskan terkait karet ini juga banyak areal karet yang sudah memasuki usia keremajakan karet ini, setiap tahun meningkat luas karet areal dua yang sampai saat ini tercatat 139 hektar. Dan itu belum ditemukan pola dan program seperti sawit yang didanai pemerintah melalui biaya Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDKS) tetapi karet tidak ada pola.

“Dalam pola jarak tanam ganda ini, petani berpeluang untuk menanam komunitas selain karet dengan tidak meninggalkan komunitas karet. Jadi, sambil menunggu karet berproduksi selama 4 tahun, petani memperoleh penghasilan dari budidaya tanaman multikultura. Tanaman pangan lainnya seperti jagung, kacang kedelai atau pun pertenakan bisa kembangkan di jarak tanah yang lebar,”jelasnya.

“Inilah yang kita coba berkolaborasi dengan dinas terkait, seperti Dinas Pertanian yang bisa berkontribusi terhadap bantuan nahkodi. Untuk menanam pangan lainnya, dan juga karet berkurang populasi tetapi tidak bersignifikan menurunkan produktifitas. Yang jelas petani memperoleh sumber pendapatan dari tanaman pangan sambil menunggu tanaman karet menghasilkan,” bebernya.

Pihaknya coba untuk masifkan di Sumsel, sambung Agus Darwa, terkait peremajaan karet tua yang di Provinsi Sumsel,dalam hal ini inten berkomunikasi dan berkolaborasi dengan instansi terkait, bagiamana upaya-upaya kita bisa cepat melaksanakan program ini. Dan mudah-mudahan kedepan pola jarak tanam ganda ini bisa kita masuk kan di sentra-sentra produksi karet di Sumsel.

“Kenapa karet ini harus kita pikirkan, karena karet ini pahlawan devisa yang sempat terlupakan. Selama ini, sumbangan ekspor non migas terbesar yakni karet. Tetapi saat karet terpuruk, tentu kita harus pikirkan petani karet. Maka dari itulah, pola-pola yang kita gagasan terhadap peremajaan karet,”tutupnya